Siapa yang suka tidur siang? Ketika sedang beraktivitas, tidur siang dianggap bisa menjadi salah satu cara untuk mengisi ulang tenaga dengan cepat.
Lalu, muncul pertanyaan, sebenarnya tidur siang itu baik nggak sih untuk kesehatan otak? Jawabannya bisa iya atau tidak, tergantung dari bagaimana seseorang melakukannya.
Dikutip dari Psychology Today, dalam meta-analisis tahun 2021 terhadap 381 orang, tidur siang sekitar satu jam dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik, terutama kewaspadaan. Meta-analisis lain menyimpulkan tidur siang selama 30-60 menit memberikan manfaat signifikan bagi performa kognitif pada orang yang tidur malam normal atau kurang tidur sebagian pada malam sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu, tidur siang terbukti membantu memulihkan perubahan imun yang terjadi akibat kurang tidur, temuan yang mungkin sangat penting mengingat penelitian terbaru yang menghubungkan ketidakseimbangan imun dengan kesehatan mental dan kognitif," ucap Austin Perlmutter MD, seorang internis berbasis di Oregon Amerika Serikat.
Tidur siang secara rutin juga dapat memberikan efek positif bagi otak secara jangka panjang. Studi tahun 2019 di jurnal Sleep menemukan, dibandingkan dengan sistem kebut semalam, belajar sebelum dan sesudah tidur siang meningkatkan ingatan hingga seminggu setelah pembelajaran awal.
Studi tahun 2022 di Frontiers in Public Health terhadap lebih dari 4.000 orang menemukan, mereka yang tidur siang kurang dari 30 menit memiliki kognisi secara keseluruhan yang lebih baik, dibandingkan mereka yang tidak tidur siang atau tidur siang lebih lama.
Tidur Siang yang Berpotensi Ganggu Kesehatan
Sejumlah data menunjukkan tidur siang yang lebih lama khususnya dapat menimbulkan masalah yang berpotensi merusak kesehatan otak. Dalam meta-analisis tahun 2016, tidur siang lebih dari 60 menit meningkatkan risiko diabetes tipe 2 sebesar 50 peersen.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara tidur siang dan demensia atau kondisi yang membuat seseorang pikun. Orang yang sering tidur siang dalam waktu lama memiliki risiko terkena Alzheimer yang lebih tinggi. Sebaliknya, orang yang sudah mengalami demensia juga cenderung lebih sering tidur siang.
Meski begitu, perlu diingat tidur siang tidak secara langsung menyebabkan demensia. Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari kemungkinan besar hanyalah gejala atau akibat dari adanya perubahan pada otak seseorang.
Perubahan di otak inilah yang sebenarnya membuat orang tersebut rentan terkena Alzheimer atau demensia.
"Tidur siang yang lebih sering juga dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, terutama depresi. Sebagian hal ini mungkin disebabkan oleh korelasi antara tidur malam yang buruk dan kesehatan mental yang lebih buruk," tandasnya.
Simak Video "Power Nap, Booster Produktivitas dan Energi "
[Gambas:Video 20detik](avk/up)

























































