Liputan6.com, JakartaCara menanam ubijepang secara hidroponik sederhana dimulai dengan menumbuhkan tunas, atau slip dari umbi yang sebagian direndam di gelas berisi air. Setelah slip berakar, bibit dipindahkan ke wadah hidroponik seperti botol bekas atau ember berisi cocopeat dan larutan nutrisi AB Mix.
Kuncinya ada pada air yang rutin diganti, cahaya matahari yang cukup dan bagian umbi yang tidak terendam terus-menerus. Wajar kalau cara menanam ubi jepang secara hidroponik sederhana makin digemari, oleh pencinta kebun mini yang tinggal di rumah dengan lahan terbatas.
Merujuk Epic Gardening, di kalangan pekebun hidroponik masih ada perdebatan soal apakah hasil panennya bisa bagus. Penelitian tentang kebutuhan tanaman ubi di media tanpa tanah juga masih sedikit, tetapi menumbuhkan akar ubi di air jelas bisa dilakukan. Karena itu, metode ini cocok dijadikan proyek berkebun yang santai sekaligus seru dipantau setiap hari.
Advertisement
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum pada Selasa (3/11/2026).
1. Cara Menyiapkan Bibit Slip Ubi Jepang dengan Media Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389182/original/054097300_1793698772-Gemini_Generated_Image_6kqjf16kqjf16kqj.jpg)
Tahap pertama dalam cara menanam ubi jepang secara hidroponik sederhana adalah membuat bibit sendiri dari umbi yang dibeli di pasar atau supermarket. Ubi jepang (satsumaimo) yang berkulit ungu kemerahan ini tidak ditanam dari biji, melainkan dari slip, yaitu tunas yang tumbuh langsung dari umbinya. Prosesnya mirip menumbuhkan biji alpukat di gelas, jadi cocok juga dijadikan dekorasi hijau di dapur atau dekat jendela.
- Gunakan ubi jepang yang padat, tidak busuk, tidak lembek, dan tidak berjamur. Kalau ada ubi yang sudah mulai bertunas di dapur, justru lebih bagus karena prosesnya bisa lebih cepat. Umbi berukuran kecil sampai sedang lebih praktis untuk gelas atau toples.
- Setiap ubi punya dua ujung yang berbeda. Ujung ini biasanya lebih runcing dan kadang sudah memiliki akar halus.
- Tancapkan tiga sampai empat tusuk gigi di sekeliling bagian tengah ubi. Tusuk gigi ini berfungsi sebagai penyangga agar ubi tertahan di bibir gelas, dengan sekitar setengah bagian bawahnya terendam air.
- Gelas plastik bening, toples kaca, atau botol bekas yang dipotong bisa jadi pilihan. Wadah bening membuat perkembangan akar mudah dipantau, dan tampilannya pun cantik untuk dipajang di meja dapur.
- Air yang dibiarkan terlalu lama bisa keruh dan berbau. Sebagaimana disampaikan University of Georgia Extension, dalam beberapa minggu ubi akan mengeluarkan slip pertama, dan airnya perlu diganti setiap minggu supaya tidak berbau. Saat cuaca sedang panas, sebaiknya air diganti lebih sering.
- Bersabarlah menunggu tunas tumbuh, di mana kecepatan tumbuh slip berbeda-beda, tergantung suhu dan kondisi umbi. Kalau dalam beberapa minggu belum ada perubahan, coba pindahkan wadah ke tempat yang lebih hangat dan terang.
- Menjaga air tetap bersih adalah perawatan paling penting di tahap ini. Air bersih membantu akar tumbuh sehat dan mencegah umbi membusuk sebelum slip siap dipanen.
Advertisement
2. Cara Memindahkan Slip ke Sistem Hidroponik Wick dari Barang Bekas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389183/original/065508400_1793698772-Gemini_Generated_Image_lra0t5lra0t5lra0.jpg)
Setelah slip tumbuh rimbun, tahap selanjutnya adalah memindahkannya ke instalasi hidroponik yang ramah kantong. Sistem wick atau sistem sumbu sering dipilih dalam cara menanam ubi jepang secara hidroponik sederhana karena tidak memerlukan pompa maupun listrik.
Berdasarkan panduan Garden Hypes, sistem wick merupakan sistem paling sederhana karena menyalurkan nutrisi ke tanaman secara pasif. Sistem ini cocok untuk pemula, meski tanaman besar seperti ubi mungkin perlu dipantau lebih sering.
- Saat tunas sudah cukup panjang dan berdaun, lepaskan perlahan dari umbinya. Jangan tergesa-gesa agar batangnya yang masih muda tidak patah.
- Kalau slip belum punya banyak akar, rendam bagian pangkalnya di gelas berisi air bersih selama beberapa hari. Buang daun di bagian batang yang akan terendam agar tidak membusuk. Bila ingin lebih rapi, akar juga bisa ditumbuhkan di media khusus.
- Untuk percobaan kecil, potong botol air mineral bekas menjadi dua. Bagian atas dibalik sebagai tempat media tanam, sedangkan bagian bawah menjadi wadah nutrisi.
- Lubangi tutup botol sesuai ukuran sumbu, lalu masukkan kain flanel hingga ujungnya menyentuh larutan di bawah. Karena ubi butuh ruang lebih besar, ember atau kontainer plastik bekas biasanya lebih ideal untuk hasil jangka panjang.
- Benamkan pangkal slip beserta akarnya ke media, lalu biarkan daunnya tetap di atas permukaan. Tekan media perlahan supaya batang berdiri tegak.
- Campurkan nutrisi AB Mix ke air bersih sesuai petunjuk kemasan. Takaran yang umum dipakai pemula untuk sistem wick adalah sekitar 5 ml larutan A dan 5 ml larutan B untuk setiap 1 liter air. Pastikan sumbu selalu tercelup agar media tetap lembap.
- Sulur ubi jepang tumbuh merambat dan bisa cukup panjang. Pasang ajir kecil, teralis mini, atau biarkan sulurnya menjuntai dari rak gantung. Hasilnya, sudut rumah terlihat lebih segar seperti tanaman hias gantung yang sedang tren.
Kalau target utamanya umbi yang besar, menanam di wadah berukuran besar bisa jadi langkah lanjutan yang layak dicoba. Panduan menanam ubi jalar di pot bisa dijadikan inspirasi untuk menentukan ukuran wadah yang pas.
3. Cara Merawat Nutrisi, Cahaya, dan pH hingga Ubi Jepang Siap Panen
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389184/original/075355900_1793698772-Gemini_Generated_Image_i6g7upi6g7upi6g7.jpg)
Perawatan rutin menentukan apakah tanaman hanya rimbun daunnya atau benar-benar menghasilkan umbi. Dalam cara menanam ubi jepang secara hidroponik sederhana, ada tiga hal yang perlu dijaga mulai dari cahaya, keseimbangan nutrisi dan kebersihan air.
Berikut panduan yang bisa diikuti sendiri oleh pemula di rumah:
- Tempatkan wadah di lokasi yang terkena sinar matahari langsung beberapa jam setiap hari, misalnya di balkon, teras, atau rooftop. Untuk penanaman di dalam ruangan, lampu LED full spectrum bisa membantu.
- Gunakan pH meter atau kertas lakmus yang mudah dibeli secara online. Kalau pH terlalu tinggi atau rendah, tambahkan larutan pH up/down sedikit demi sedikit sampai kembali ke rentang ideal.
- Tidak semua air cocok untuk tanaman. Sebagaimana dilaporkan Parade Home & Garden, hindari air hasil pelunakan (softened water) karena kandungan garamnya tinggi sehingga menghambat pertumbuhan akar dan tanaman.
- Pupuk yang terlalu kaya nitrogen membuat tanaman sibuk menumbuhkan daun dan sulur, sedangkan umbinya kecil. Pilih nutrisi yang lebih seimbang, dan pada fase pembesaran umbi utamakan kalium.
- Jika menanam langsung dari umbi yang sudah bertunas, jumlah tunas bisa disesuaikan dengan target panen. Pantau volume larutan di wadah bawah, terutama saat cuaca terik. Ganti larutan secara keseluruhan kira-kira setiap satu hingga dua minggu agar tidak muncul lumut dan bau.
- Ubi jepang umumnya siap panen sekitar 4 sampai 5 bulan setelah tanam. Tanda-tandanya, daun mulai menguning dan umbi terlihat membesar ketika media disibak perlahan. Keluarkan umbi dengan hati-hati supaya kulitnya tidak lecet.
- Ubi yang baru dipanen biasanya masih bertepung dan belum terlalu manis. Simpan umbi di tempat hangat dan lembap, sekitar 27 sampai 29 derajat Celsius dengan kelembapan 85 sampai 90 persen, selama 10 hingga 14 hari. Proses ini membantu mengubah pati menjadi gula sehingga rasanya lebih legit ketika dipanggang ala yaki-imo.
Selain umbinya, pucuk daun ubi juga bisa dipetik untuk ditumis atau dijadikan sayur bening. Jadi, meskipun hasil umbinya belum maksimal di panen pertama, tanaman ini tetap memberi manfaat sebagai sayuran segar dari kebun sendiri. Untuk menjaga kualitas tanaman di musim berikutnya, perhatikan juga regenerasi bibit ubi agar mutu umbi tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Advertisement
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menanam Ubi Jepang Hidroponik
Banyak pemula yang semangat di awal, lalu kecewa ketika umbinya membusuk atau tanamannya hanya tumbuh daun. Padahal, sebagian besar masalah ini bisa dicegah dengan memahami karakter ubi sebagai tanaman umbi yang berbeda dari sayuran daun seperti selada atau kangkung. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi beserta solusinya.
- Merendam seluruh umbi di air: Kalau terlalu banyak bagian ubi yang terendam, umbi mudah busuk dari atas maupun bawah. Cukup rendam sekitar setengah bagian atau kurang, dan pastikan ujung tunas tetap kering.
- Membiarkan media selalu becek: Akar memang perlu air, tetapi bagian yang akan menjadi umbi butuh oksigen. Itulah alasan media berpori seperti cocopeat, perlite, atau arang sekam lebih cocok daripada merendam akar langsung di air selama masa pembesaran umbi.
- Menggunakan wadah terlalu kecil: Botol 600 ml cocok untuk tahap awal atau sebagai tanaman hias. Namun, untuk mengharapkan umbi, wadah yang lebih besar dan dalam seperti ember jauh lebih ideal.
- Lupa mengganti air: Air yang keruh menjadi tempat berkembangnya bakteri dan jentik nyamuk. Biasakan mengecek wadah setiap beberapa hari, apalagi ketika suhu sedang tinggi.
- Memilih umbi yang sudah diberi zat antitunas: Beberapa ubi di pasaran diberi perlakuan supaya tidak cepat bertunas. Kalau ubi tidak kunjung bertunas setelah berminggu-minggu, coba ganti dengan umbi organik atau dari petani lokal.
- Kurang cahaya: Tanaman yang kekurangan sinar matahari akan tumbuh kurus, pucat, dan memanjang. Pindahkan ke lokasi yang lebih terang atau gunakan lampu tanam tambahan.
- Memperbanyak dari stek terus-menerus: Perbanyakan dari stek batang memang praktis, tetapi sebaiknya dibatasi tiga sampai lima generasi saja. Setelah itu, mulai lagi dari umbi baru agar kualitas hasil panen tidak menurun.
- Terlalu cepat memanen: Umbi ubi jepang butuh waktu berbulan-bulan untuk membesar. Memanen terlalu dini membuat ukurannya kecil, sedangkan terlambat panen berisiko membuat umbi diserang hama dan kadar gulanya turun.
Dengan menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, peluang berhasil jadi jauh lebih besar. Banyak pekebun rumahan juga menganggap proses memantau akar tumbuh hari demi hari sebagai kegiatan mindful yang menenangkan di tengah rutinitas.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ubi Jepang Hidroponik
Apakah ubi jepang hidroponik benar-benar bisa menghasilkan umbi?
Bisa, tetapi butuh waktu lebih lama, wadah yang cukup besar, dan media berpori agar bagian umbi tidak terus terendam air. Kalau ruangnya sangat terbatas, ubi jepang hidroponik tetap bisa dinikmati sebagai tanaman hias produktif yang pucuk daunnya bisa dimasak.
Berapa lama ubi jepang hidroponik bisa dipanen?
Secara umum, ubi jepang siap dipanen sekitar 4 sampai 5 bulan setelah slip ditanam. Waktunya bisa sedikit berbeda, tergantung varietas, intensitas cahaya, dan kualitas nutrisi yang diberikan.
Apakah ubi jepang hidroponik wajib memakai nutrisi AB Mix?
Pada tahap awal pembuatan slip, air bersih yang diganti rutin sudah cukup. Namun, setelah dipindahkan ke sistem hidroponik, nutrisi seperti AB Mix sangat dianjurkan karena media tanpa tanah tidak menyediakan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan daun dan umbi.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385238/original/034787500_1793247276-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359577/original/013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391176/original/070792400_1793875895-Screenshot_2026-11-05_170652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259592/original/057928600_1781507421-guru_sekolah_rakyat_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389181/original/044251400_1793698772-Gemini_Generated_Image_i6g7upi6g7upi6g7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411723/original/069752100_1479709693-Jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391954/original/072137000_1793958689-Vertical_500x656_-_Dayatana.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345690/original/067748100_1789050705-WhatsApp_Image_2026-09-10_at_21.02.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344472/original/056989200_1788947104-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_4.34.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329986/original/052581700_1787307659-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.03.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308204/original/009529000_1785132477-WhatsApp_Image_2026-07-27_at_12.46.15_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304577/original/005200700_1784721544-WhatsApp_Image_2026-07-22_at_18.12.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291253/original/086637400_1783510555-WhatsApp_Image_2026-07-08_at_17.07.14.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290264/original/065273200_1783441564-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.36.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290208/original/083376600_1783432448-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.29.47.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290170/original/059488200_1783429797-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_19.50.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9271167/original/049315200_1783170039-WhatsApp_Image_2026-07-04_at_17.30.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8974535/original/013451500_1782983178-1106e511-c5ef-46a5-8b74-de1fd75e92f8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262336/original/070728700_1781780140-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_17.41.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1588019/original/097014900_1538998899-PG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392062/original/015622700_1793969928-WhatsApp_Image_2026-11-06_at_12.54.23_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260346/original/053716200_1781587529-Bank_Sentral_Jepang-16_Juni_2026a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392317/original/091405100_1794036018-AP16159301936323.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3609270/original/075406600_1634824370-cdc-ZeMORDph5lk-unsplash.jpg)