Organisasi berbasis riset di Finlandia merilis studi terkait paparan asap beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berkepanjangan. Asap karhutla diperkirakan dapat memicu setidaknya 5.200 kematian, dengan Kalimantan Tengah sebagai provinsi paling berisiko.
Dilansir detikHealth, studi dilakukan oleh Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang berbasis di Finlandia. CREA memperkirakan ada sebanyak 3.560 kasus kematian di Indonesia pada September, dengan penyebab utama paparan asap kebakaran. Angka itu disebut meningkat dibandingkan Agustus dengan jumlah perkiraan mencapai 1.700 kasus.
Studi menyebut warga yang tinggal di Kalimantan dan Sumatera menjadi kelompok yang paling terdampak. Tiga provinsi di Kalimantan bahkan mencatat risiko kematian paling tinggi akibat kabut asap karhutla. Kalimantan Tengah menempati urutan pertama dengan 14 kematian per 100.000 penduduk, disusul Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan dengan masing-masing 9 kematian per 100.000 penduduk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risiko kematian ini dikaitkan dengan kadar partikel halus atau particulate matter (PM2.5) yang sangat tinggi. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan menyebabkan kerusakan fatal bukan hanya pada sistem pernapasan, tetapi juga peredaran darah.
"Lonjakan kebakaran hutan dan lahan mendorong kadar partikel halus (PM2.5) mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," ungkap CREA, dikutip dari Nikkei Asia.
CREA melaporkan rata-rata kadar PM2.5 harian di sejumlah kota besar di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mencapai lebih dari 20 kali ambang batas harian Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, yakni 15 mikrogram per meter kubik. Sedangkan di sejumlah kota di Sumatera, kadarnya mencapai delapan hingga 10 kali lipat dari ambang batas WHO.
Secara nasional, setidaknya 58 juta penduduk terpapar udara dengan kategori "tidak sehat" hingga "berbahaya" pada September. Menurut CREA, jumlah tersebut meningkat 40 persen dibandingkan puncak paparan pada Agustus dan menjadi rekor bulanan.
CREA menambahkan, kondisi yang memburuk pada September sangat dipengaruhi oleh kekeringan akibat fenomena iklim El Nino. Saat El Nino kuat melanda pada 2015, kebakaran di Indonesia dan kabut asap lintas batas yang ditimbulkannya juga diperkirakan menyebabkan 100.000 kematian dini.
Pada tahun tersebut, sebagian besar korban berada di Indonesia. Namun, dampaknya juga dirasakan di Singapura dan Malaysia. Angka tersebut berdasarkan studi yang dilakukan oleh Universitas Harvard dan Universitas Columbia.
Baca selengkapnya di sini.




























































