Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mewanti-wanti Danantara jangan mau dilobi Singapura terkait ekspor listrik.
Saat ini, pemerintah memutuskan tidak ekspor listrik ke Singapura. Alasannya, Indonesia masih membutuhkan listrik.
"Saya sudah mengumumkan untuk Indonesia belum dalam waktu dekat, belum bisa mengekspor listrik. Kita masih butuh listrik. Enggak ada," ujar Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahlil mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri. Bahlil juga menegaskan keputusan soal ekspor ini ada di Kementerian ESDM, bukan Danantara.
"Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kamu mau dilobi-lobi. Enggak ada. Izin itu ada di ESDM, bukan Danantara," tegas Bahlil yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Kedaulatan negara saya dahulukan, wibawa negara saya mendahulukan. Marwah negara adalah marwah 280 juta jiwa yang ada di bangsa ini," sambungnya.
Sebelumnya, rencana Indonesia ekspor listrik ke Singapura memang belum terwujud. Hal ini terjadi karena belum adanya kesepakatan soal harga.
Bahlil mengungkapkan, sebenarnya Indonesia terbuka untuk ekspor listrik ke Singapura. Namun, dalam proses kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua belah pihak.
"Untuk Singapura, kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam," kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Bahlil menjelaskan Indonesia sendiri sudah menjalin kerja sama kelistrikan dengan Malaysia. Dalam hal ini, Indonesia mengimpor listrik dari Malaysia.
Dalam kerja sama tersebut, Bahlil mengatakan bahwa kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keuntungan.
"Seperti kita melakukan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia, itu kan kita juga impor listrik dari Malaysia, PLTA kita lewat Kalimantan. Itu bagus, harganya cengli," ujarnya.
Simak juga Video 'Bahlil Sebut Harga Minyak Capai US$ 100/Barel: Kondisi Global Tak Menentu':
(hrp/hns)




















































