Video dugaan penolakan pasien di Puskesmas Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, viral di media sosial. Dalam rekaman itu, petugas puskesmas dituding menolak pasien dengan alasan ruang perawatan penuh, meski perekam menyebut masih ada tempat tidur yang kosong.
Berikut fakta-faktanya
1. Vidal di Sosial Media
Dalam rekaman video itu, perekam menunjukkan kondisi seorang pasien yang terbaring di luar puskesmas. Ia juga menyoroti keberadaan tiga tempat tidur yang disebut masih tersedia di puskesmas tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingali, ieu Puskesmas Bantarujeg dengan dalih ruangan penuh, tapi masih tiga tersedia, ditolak. Ieu tingali nu geuringna masih keneh di dieu, nempikeun kanu gering dikieukeun didieu digolerkeun di sisi tingali iyeu," ujar perekam dalam video viral seperti yang dilansir detikJabar, Senin (2/10/2026).
"Lihat, ini puskesmas Bantarujeg dengan dalih ruangan penuh, padahal masih tiga tersedia, ditolak. Ini lihat yang sakitnya masih di sini, sampai yang sakit digeletakkan di pinggir lihat ini," diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
2. Dinas Kesehatan Investigasi
Menanggapi video yang beredar, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majalengka, Agus Suratman mengatakan, pihaknya telah melakukan investigasi ke Puskesmas Bantarujeg. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kapasitas ruang perawatan saat itu memang sedang penuh.
"Memang di sana keterisian kamarnya penuh. Di IGD ada tiga bed. Memang ada satu yang kosong, tetapi kalau nanti ada pasien kecelakaan tempat tidur ini harus dikosongkan agar bisa melaksanakan tindakan di sini," kata Agus saat dikonfirmasi detikJabar.
Agus menjelaskan, dua tempat tidur lainnya di IGD sedang digunakan pasien. Bahkan, terdapat pasien yang harus menunggu sebelum akhirnya mendapatkan perawatan.
"Bed yang lainnya terisi. Tadi juga ada pasien yang dirawat, itu juga hasil menunggu. Jadi memang keterisiannya lagi penuh," ujarnya.
Kondisi serupa, kata Agus, juga terjadi di ruang perawatan anak dan ruang pasien perempuan. Kedua ruangan tersebut sedang terisi penuh ketika pasien datang.
"Ruang anak juga sedang penuh. Ruang pasien perempuan penuh. Yang kemarin datang memang penuh. Mohon maaf, karena saat ini sedang penuh," ucapnya.
3. Jadi Evaluasi
Agus turut menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah menyampaikan kritik melalui media sosial. Menurutnya, video tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pelayanan kesehatan di Kabupaten Majalengka.
"Terima kasih kepada masyarakat yang sudah memberikan kepercayaan kepada setiap puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan. Terima kasih kepada masyarakat yang sudah meng-upload video kemarin. Semoga ini menjadi bahan pemikiran kita bersama, apa yang kita lakukan dan apa yang diterima terhadap perlakuan kepada masyarakat," tuturnya.
4. Kebutuhan Faskes Disorot
Di sisi lain, persoalan tersebut turut menyoroti kebutuhan fasilitas kesehatan rawat inap di wilayah selatan Kabupaten Majalengka. Sejumlah kecamatan seperti Banjaran, Cikijing, Cingambul, dan Talaga dinilai membutuhkan tambahan fasilitas rumah sakit.
Rencana pembangunan gedung rawat inap di RSUD Talaga pun menjadi salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut.
"Saya ingin mendorong juga lebih kepada rencana penambahan pembangunan rumah sakit rawat inapnya, karena masyarakat wilayah selatan sudah betul-betul membutuhkan," ujar Agus.
5. Siapkan Rp50 Miliar untuk Pembangunan RS
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka disebut telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 70 miliar dari dana eks investasi BIJB untuk pembangunan fisik rumah sakit tersebut. Pembangunannya direncanakan mulai tahun depan.
"Perhatian Bupati kita luar biasa, dana (eks) investasi (BIJB) itu dianggarkan untuk pembangunan rumah sakit terawat inap rumah sakit Talaga," jelasnya.
Namun, kebutuhan anggaran tidak berhenti pada pembangunan gedung. Rumah sakit juga membutuhkan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari tempat tidur pasien, monitor, hingga peralatan kesehatan lainnya.
Kebutuhan pengadaan peralatan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp 30 miliar. Karena keterbatasan anggaran daerah, dukungan dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan dapat membantu pemenuhan fasilitas tersebut.
"Mudah-mudahan Kemenkes dan Provinsi bisa membantu untuk kebutuhan itu semua. Karena kewenangan Bupati di Kabupaten sudah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan rumah sakit fisik-nya saja sebesar Rp 70 miliar," jelasnya.
6. Terjadi Salah Paham
Bupati Majalengka Eman Suherman Eman mengaku telah meminta penjelasan mengenai kronologi kejadian tersebut. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pasien datang dijemput menggunakan kursi roda dan sempat mendapatkan pemeriksaan medis.
"Pasien datang menggunakan kursi roda. Kemudian dibawa ke dalam, lalu dilakukan pemeriksaan. Dicek tensinya segala macamnya, dan ternyata potensi suspect TBC," kata Eman.
Menurutnya, pasien tidak ditempatkan di ruang perawatan karena kondisi ruangan saat itu sedang penuh. Salah satu ruangan disebut dalam kondisi kotor setelah sebelumnya digunakan untuk menangani pasien kecelakaan.
Dokter kemudian menyarankan pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rontgen. Bahkan, puskesmas juga sudah menawarkan ambulance kepada pasien. Namun, pasien disebut tidak bersedia menjalani rujukan karena jarak rumah sakit yang cukup jauh.
Setelah itu, lanjut Eman, terjadilah kesalahpahaman setelah pasien tidak terlihat di lokasi pemeriksaan. Petugas mengira pasien sudah berangkat untuk menjalani rujukan, padahal ternyata masih berada di lorong puskesmas.
"Jadi artinya SOP sudah jalan dan sudah dilayani dulu. Cuma karena di sini tidak bisa dilayani, harus dirujuk karena tadi sakit itu. Dikira oleh teman-teman sudah berangkat, ternyata di lorong. Inilah mis (miskomunikasi) yang terjadi," ujarnya.
7. Bupati Minta Maaf
Meski demikian, Eman menegaskan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi jajaran pelayanan kesehatan di Kabupaten Majalengka. Dia meminta seluruh petugas memberikan pelayanan secara santun dan ramah kepada masyarakat.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Eman juga menyatakan akan mendatangi pasien untuk menyampaikan permohonan maaf. Jika pasien bersedia dibawa ke rumah sakit, pemerintah daerah siap membantu pembiayaannya.
"Namun demikian, saya sebagai bupati penanggung jawab persoalan ini akan datang ke pasien, minta maaf. Kalau sekarang mau bawa ke rumah sakit, ya dibawa ke rumah sakit, kita biayai," ucapnya.
8. Kepala Puskesmas Dikumpulkan
Lebih jauh, Eman mengatakan, ia juga akan mengumpulkan seluruh kepala puskesmas dan dokter pada Selasa besok. Pertemuan tersebut bertujuan memperkuat pembinaan sekaligus mengingatkan petugas agar mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.
"Saya besok akan kumpulkan semua kepala puskesmas, kemudian dokter. Karena saya sudah sering menyampaikan, makanya saya sampaikan tadi, apakah suara saya tidak didengar? Pembinaan saya tidak didengar sebagai pembina kepegawaian?" tuturnya.
Eman mengingatkan petugas kesehatan agar memahami kondisi psikologis masyarakat yang datang untuk mendapatkan pelayanan medis. Menurutnya, pasien dan keluarganya tidak hanya membawa keluhan kesehatan, tetapi juga berbagai persoalan lain, mulai dari kekhawatiran biaya pengobatan, kebutuhan keluarga yang harus menjaga pasien, hingga persoalan pekerjaan selama menjalani perawatan.
"Ketika orang datang ke rumah sakit atau puskesmas, segudang persoalan dia bawa. Bukan hanya mencari kesembuhan, tapi kalau musibah proses penyembuhan itu harus inap, bayangkan dia memikirkan siapa yang akan menjaga, berapa biaya semalamnya," jelasnya.
(bba/sud)






















































