Aktivitas pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, perlahan kembali normal setelah sebelumnya terganggu kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah sekolah mulai membuka kembali pembelajaran tatap muka seiring membaiknya kondisi udara di beberapa wilayah.
Meski demikian, Dinas Pendidikan Kotim belum memberlakukan kebijakan masuk sekolah secara serentak. Setiap satuan pendidikan diberikan kewenangan untuk menentukan metode pembelajaran berdasarkan kondisi cuaca dan kualitas udara di lingkungan masing-masing.
Kepala Dinas Pendidikan Kotim Yolanda Lonita Fenisia mengatakan, sekolah yang mulai menggelar pembelajaran tatap muka tetap harus mengikuti ketentuan selama masa tanggap darurat karhutla dan kekeringan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya dengan menerapkan jam belajar terbatas, yakni mulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Kebijakan tersebut mengacu pada surat edaran Bupati Kotim untuk mengantisipasi dampak kondisi lingkungan terhadap kesehatan siswa dan tenaga pendidik.
"Menyesuaikan dengan kondisi cuaca saat ini, beberapa sekolah sudah mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka. Namun, pelaksanaannya tetap mengacu pada surat edaran kepala daerah," katanya, Jumat (30/10/2026).
Yolanda menjelaskan, keputusan untuk kembali belajar di sekolah atau tetap menerapkan Belajar Dari Rumah (BDR) maupun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sepenuhnya disesuaikan dengan situasi di sekitar sekolah.
"Artinya, sekolah di wilayah yang kondisi udaranya mulai membaik bisa lebih dahulu melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sementara sekolah yang masih menghadapi kabut asap diminta tetap mengutamakan pembelajaran dari rumah," katanya.
Disdik Kotim berharap pembelajaran langsung dapat segera diberlakukan lebih luas apabila kondisi cuaca dan kualitas udara benar-benar mendukung. Namun, pihaknya tidak ingin memaksakan kegiatan belajar di kelas jika masih berisiko bagi kesehatan peserta didik maupun guru.
"Harapan kami, jika kondisi sudah sangat memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, proses pembelajaran bisa kembali dilakukan secara langsung di sekolah," ucapnya.
Di sisi lain, data pada dasbor Disdik Kotim masih menunjukkan sekitar 400 satuan pendidikan menerapkan BDR/PJJ. Jumlah tersebut mencapai separuh dari total sekitar 800 sekolah yang tersebar mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Meski begitu, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi terkini. Yolanda menyebut masih terdapat keterlambatan pembaruan laporan dari sejumlah sekolah. Akibatnya, beberapa sekolah yang sebenarnya sudah kembali belajar tatap muka masih tercatat menjalankan pembelajaran dari rumah.
"Disdik Kotim pun meminta seluruh sekolah terus memperbarui laporan sekaligus memantau perkembangan kualitas udara di wilayah masing-masing," ujarnya.




























































