Kulkas dan freezer supermarket di tujuh negara Eropa mengalami malfungsi, dengan termostatnya dinaikkan dari jarak jauh yang dalam beberapa kasus mencapai 50C.
Serangan melanda kulkas-kulkas di cabang-cabang Carrefour, Intermarche, dan Ikea di Belgia, Coop dan ICA di Swedia, Delhaize di Luksemburg, Kesko di Finlandia, SuperValu di Irlandia, serta toko-toko di Estonia.
Insiden ini tampaknya ulangan serangan tiga minggu lalu ketika peritel Prancis terpaksa membuang makanan saat kulkas mereka tiba-tiba sangat panas akibat hacker anonim mengambil alih kendali software manajemen peralatan mereka yang terhubung ke internet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa mungkin telah terjadi di AS awal Agustus ketika serangkaian malfungsi kulkas misterius melanda toserba di setidaknya enam pangkalan militer. Pentagon sedang menyelidiki dugaan peretasan tersebut.
Hal ini dikhawatirkan menjadi babak baru taktik serangan siber dan peretasan. Kulkas bukan satu-satunya perangkat yang sistem kendalinya rentan terhadap hacker. Banyak oven, mesin cuci, mesin pencuci piring, dan sistem pemanas sentral terhubung ke internet untuk memungkinkan akses jarak jauh.
Siapa pelakunya?
Tidak ada kelompok "haktivis" bermotif politik yang mengklaim bertanggung jawab, dan tidak ada pula geng ransomware yang mengeksploitasi kerentanan ini untuk menuntut bayaran dari supermarket.
"Dua skenario atribusi yang paling masuk akal bagi saya adalah semacam pemberian sinyal dan demonstrasi kemampuan oleh pihak berbasis negara, atau semacam hacker lone-wolf yang melakukan serangan untuk alasan pribadi mereka sendiri," kata Rafe Pilling, direktur senior perusahaan keamanan siber Sophos.
Teori aktor terkait negara tampaknya paling mungkin, sebagian karena dampak psikologis nyata pada populasi besar ketika melihat makanan kosong dari rak toko. Dikutip detikINET dari Guardian, Korea Utara diyakini berada di balik pencurian mata uang kripto Binance minggu lalu, namun dalam kasus ini, hacker terkait Rusia dan China juga kemungkinan besar masuk dalam radar.
Para kepala intelijen Barat mengatakan Moskow sedang melancarkan kampanye sabotase di Eropa dalam berbagai bentuk dan kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Mengetahui siapa pelakunya lebih sulit karena peretasan ini relatif sederhana. Tidak diperlukan malware, yang berarti tidak ada jejak senjata di tempat kejadian perkara. Pilling mengibaratkannya seperti "memakai sarung tangan karet dan mengutak-atik sakelarnya".
Software yang mengelola kulkas komersial terhubung ke internet. Berarti baris-baris kodenya dapat rentan terhadap peretas. Tak seperti perangkat desktop atau seluler, di mana pengguna sering diberi peringatan akan perlunya pembaruan untuk memperbaiki kerentanan, software di barang seperti kulkas dapat dibiarkan lama tanpa pembaruan.
Nick Jackson, direktur di perusahaan keamanan siber Bitdefender, mengatakan satu alasan perusahaan mungkin lambat dalam menginstal pembaruan adalah karena proses tersebut membutuhkan waktu sehingga mesin harus offline, sebuah masalah nyata bagi peritel makanan.
Penjelasan lebih sederhana bisa jadi adalah bahwa orang-orang yang menjalankan kulkas tersebut tak menyadari masalahnya, tidak memikirkannya, dan bukan prioritas utama mereka.















































