Nasib penumpang kapal pesiar Odyssey semakin tidak menentu. Kapal itu sekarang terancam dilelang.
Setelah menghentikan pelayaran dan membuat ratusan penumpang telantar di Kamboja, kapal milik Villa Vie Residences itu kini berada di bawah kendali pihak pemberi pinjaman.
Para penumpang telah diberi tahu mengenai pengambilalihan tersebut melalui pesan internal perusahaan yang diperoleh CBS News.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, kapal tersebut dikabarkan akan segera dipindahkan dari Kamboja ke Singapura dan berpotensi dilelang.
Saat ini, perusahaan kapal pesiar itu berjanji akan terus memperjuangkan agar tak berpindah tangan. Mike Petterson, pendiri sekaligus ketua eksekutif Villa Vie, mengatakan masih ada peluang untuk mendapatkan kembali kapal tersebut.
Dia menyebut syaratnya harus berhasil menemukan mitra operasional dan pendanaan baru. Menurutnya, proses itu diperkirakan memakan waktu 30-90 hari.
Nah, selama periode tersebut, perusahaan masih memiliki kesempatan untuk melakukan restrukturisasi. Petterson juga menegaskan bahwa pengambilalihan oleh pemberi pinjaman tidak otomatis berarti masa depan Odyssey telah berakhir.
"Kini mereka bertanggung jawab untuk membayar kru, bahan bakar, serta operasional dan keamanan kapal," kata Petterson.
Dengan status itu, para penumpang hanya diberi waktu hingga akhir pekan untuk mengeluarkan seluruh barang pribadi mereka sebelum akses ke kapal ditutup.
Petterson mengatakan pemberi pinjaman masih bersedia mempertimbangkan rencana penyelamatan selama didukung pendanaan yang jelas. Namun, sikap optimistis perusahaan justru membuat sebagian penumpang khawatir mereka hanya diberi harapan palsu.
Upaya penumpang untuk menyelamatkan kapal melalui pembelian bersama juga tidak membuahkan hasil. Sebanyak 169 penumpang sebelumnya telah menyatakan kesediaan untuk kembali menginvestasikan uang mereka demi membeli Odyssey.
Namun, rencana tersebut gagal setelah pemberi pinjaman menolak menyediakan pendanaan. Dokumen internal yang ditinjau CBS News juga menunjukkan bahwa Villa Vie telah menghadapi kesulitan keuangan setidaknya tiga bulan sebelum kapal tiba di Kamboja.
Bahkan, dalam pertemuan pada awal Agustus, perusahaan membahas perbedaan antara penumpang yang tidak mampu memberikan tambahan dana dan mereka yang sebenarnya tidak bersedia berkontribusi lagi.
Salah satu penghuni yang merasakan dampaknya adalah Joel Greiff dari Naples, Florida. Ia telah mengeluarkan USD 350.000 (Rp 6,35 miliar) untuk membeli sebuah kabin di Odyssey, tetapi hanya sempat tinggal di kapal selama 26 hari sejak bergabung pada Oktober.
Greiff mengaku telah membayar uang muka pada Agustus 2025 dan melunasi seluruh pembayarannya pada Mei 2026. Ketika perusahaan mulai meminta tambahan dana pada akhir Juli, ia merasa masa depan kapal tersebut sudah tidak menjanjikan. Ia bahkan menjual kendaraan rekreasinya atau RV pada 3 Agustus karena mulai menduga proyek itu akan gagal.
Setelah diminta meninggalkan kapal, Greiff kini tinggal di Kampot, Kamboja. Ia menemukan tempat tinggal dengan biaya sekitar USD 200 (Rp 3,6 juta) per bulan di tepi sungai. Meski mengaku telah menerima kemungkinan bahwa uang ratusan ribu dolar yang diinvestasikannya tidak akan kembali. Ia tetap kecewa terhadap pengelolaan perusahaan.
Sementara itu, Villa Vie masih mempertimbangkan berbagai pilihan, termasuk pengajuan kepailitan berdasarkan hukum di Amerika Serikat. Namun, proses tersebut diperkirakan membutuhkan biaya sekitar USD 3 juta (Rp 54,4 miliar) hanya untuk 60 hari pertama.
Perusahaan berharap dapat membiayai operasional melalui pendanaan Debtor-in-Possession (DIP) dan iuran pemeliharaan penghuni.
Petterson menegaskan bahwa Villa Vie sepenuhnya didanai oleh para penghuni dan karyawannya, tanpa pemangku kepentingan lain di luar kelompok tersebut. Sebelum krisis ini terjadi, perusahaan induknya, Residential Cruise Holdings, bahkan sempat berencana mengakuisisi kapal tambahan.
Kini, seluruh perhatian perusahaan diarahkan untuk menyelamatkan Odyssey. Belum ada kepastian apakah kapal tersebut akan kembali beroperasi, berpindah tangan, atau akhirnya dilelang.





























































