Liputan6.com, Jakarta Kamu curhat panjang lebar dengan seseorang, tapi besoknya dia tiba-tiba hilang kabar? Situasi ini cukup sering terjadi, jadi mengenali ciri orang yang suka menghilang setelah curhat panjang bisa membantumu tidak salah paham.
Ciri orang yang suka menghilang setelah curhat panjang biasanya terlihat dari balasan chat yang mendadak singkat, sikap canggung, sampai menghindari pertemuan. Perilaku ini tidak selalu berarti dia membencimu, tetapi sering kali tanda dia merasa sudah terlalu terbuka.
Dilansir dari Choosing Therapy, kondisi ini dikenal sebagai vulnerability hangover. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Brene Brown dan terjadi setelah seseorang terbuka dan jujur kepada orang lain tentang perasaannya , lalu sebagian orang menarik diri dari orang lain untuk melindungi dirinya.
Advertisement
Apa Itu Kebiasaan Menghilang Setelah Curhat Panjang?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4119691/original/034189700_1660181990-gaelle-marcel-MNzHec7sPuc-unsplash_1_.jpg)
Langkah pertama untuk memahami fenomena ini adalah mengenal istilah vulnerability hangover. Jika diterjemahkan secara bebas, istilah ini berarti "pengar setelah membuka diri". Bayangkan seseorang yang bangun pagi dengan kepala terasa berat setelah begadang semalaman. Sensasinya kurang lebih serupa, tetapi kali ini yang terasa tidak nyaman adalah perasaannya.
Dalam praktiknya, vulnerability hangover terjadi ketika seseorang justru merasa menyesal, malu, atau ingin menarik diri setelah membagikan hal-hal pribadi kepada orang lain. Jadi, orang yang tiba-tiba menghilang setelah curhat sebenarnya mungkin sedang mengambil jarak untuk mengembalikan rasa aman dalam dirinya, bukan sengaja menghukummu.
Contoh sederhananya, bayangkan temanmu bercerita hingga larut malam tentang masalah keluarga yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Malam itu terasa hangat dan akrab. Namun, keesokan harinya, pesan darimu hanya dibalas singkat dengan "iya" atau bahkan tidak dibaca sama sekali.
Pola seperti ini juga dijelaskan oleh para terapis. Ada orang yang setelah terlibat dalam percakapan sangat intim justru memilih menghindari orang yang menjadi tempatnya bercerita. Tingkat ketidaknyamanan yang dirasakan pun bisa berbeda-beda, bergantung pada jenis hubungan, pengalaman masa lalu, serta bagaimana orang lain merespons keterbukaan mereka.
Lantas, mengapa curhat yang awalnya terasa melegakan justru bisa berubah menjadi rasa malu? Menurut psikolog, momen keterbukaan dapat memicu vulnerability hangover ketika seseorang mulai mengkhawatirkan ucapan atau tindakannya. Ia mungkin takut telah mengatakan sesuatu yang tidak pantas atau khawatir orang lain akan memandangnya secara berbeda.
Penjelasan ini juga disampaikan oleh psikolog yang dikutip Wondermind.
Jenny Wang, PhD, psikolog berlisensi, dikutip dari Wondermind menyatakan, "Pada akhirnya, ketika ada risiko seseorang bisa menarik diri dari hubungan akibat apa yang kamu bagikan, hal itu bisa memicu hangover tersebut."
Hal penting yang perlu dipahami adalah perilaku menghilang setelah curhat panjang tidak selalu berarti seseorang berniat memutus hubungan. Dalam kasus vulnerability hangover, keinginan mengambil jarak lebih berkaitan dengan perasaan terlalu terbuka dan rentan setelah bercerita, bukan semata-mata karena kehilangan minat terhadap hubungan tersebut.
Meski begitu, jika pola ini terus berulang hingga membuatmu merasa diabaikan atau dirugikan, kamu tetap berhak menyikapinya dengan tegas. Memahami perasaan orang lain bukan berarti harus mengesampingkan kebutuhan emosional diri sendiri. Bagian berikutnya membahas tanda-tanda yang bisa kamu amati.
Advertisement
Ciri Orang yang Suka Menghilang Setelah Curhat Panjang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4700819/original/059780900_1703761422-Ilustrasi_main_HP__kangen__LDR__malam_hari.jpg)
Tanda-tanda vulnerability hangover terkadang muncul secara halus. Karena itu, kamu perlu memperhatikan pola perilakunya, bukan langsung menyimpulkan dari satu kejadian saja. Ada beberapa perubahan sikap yang bisa muncul setelah seseorang membagikan cerita pribadi atau membuka sisi dirinya yang selama ini jarang diperlihatkan.
Mengutip Cova Psychology, percakapan mendalam tentang duka, ketakutan, keluarga, rasa malu, atau hal-hal pribadi yang biasanya disembunyikan bisa membuat seseorang merasa terlalu terekspos. Dalam kondisi tersebut, menjaga jarak terkadang menjadi cara untuk mengurangi perasaan rentan dan mengembalikan kendali atas dirinya.
Berikut beberapa ciri yang bisa kamu amati.
1. Balasan chat mendadak singkat dan lambat.
Sebelumnya, dia dikenal cerewet dan cepat membalas pesan. Namun, setelah percakapan mendalam, balasannya berubah menjadi satu atau dua kata, bahkan membutuhkan waktu lebih lama. Sikap ini bisa menjadi caranya mengurangi intensitas komunikasi tanpa harus menjelaskan perasaannya.
2. Mengalihkan topik atau mulai bercanda.
Ketika kamu menyinggung cerita yang disampaikan sebelumnya, dia buru-buru mengganti topik atau justru melontarkan candaan. Seseorang yang merasa tidak nyaman setelah membuka diri bisa menghindari pembicaraan tersebut agar tidak perlu kembali menghadapi perasaan rentannya.
3. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ketika akhirnya kembali mengobrol, dia hanya membahas hal-hal ringan dan sama sekali tidak menyinggung cerita pribadinya. Seolah-olah percakapan mendalam yang pernah terjadi tidak pernah berlangsung. Sikap ini bisa menjadi upayanya menutup kembali sisi diri yang sempat ia perlihatkan.
4. Menghindari pertemuan langsung.
Ajakan untuk nongkrong atau bertemu ditolak dengan alasan sibuk. Bisa jadi, berhadapan langsung dengan orang yang sudah mengetahui sisi rapuhnya terasa lebih berat. Karena itu, dia memilih menjaga jarak untuk sementara waktu.
5. Menghapus pesan atau unggahan pribadi.
Tanda lainnya adalah menarik kembali sesuatu yang sebelumnya sudah dibagikan. Misalnya, seseorang mengunggah cerita pribadi di media sosial, tetapi kemudian menghapusnya. Hal serupa juga bisa terjadi ketika dia menghapus pesan panjang yang telanjur dikirim karena merasa terlalu banyak bercerita.
6. Menolak tawaran bantuan.
Meskipun sebelumnya bersedia menceritakan masalahnya, dia justru menolak ketika kamu menawarkan diri untuk kembali mendengarkan. Pada sebagian orang dengan kecenderungan menghindar, kebutuhan untuk mempertahankan kemandirian dan ruang pribadi bisa membuat mereka enggan membahas masalah atau menerima dukungan emosional.
7. Menunjukkan pola datang dan pergi.
Hari ini dia bisa bersikap hangat dan terbuka, tetapi keesokan harinya kembali dingin dan menjaga jarak. Pola ini dapat terlihat seperti siklus mendekat lalu mundur. Ada orang yang menarik diri dengan menunjukkan sikap mandiri dan dingin, sementara yang lain berulang kali kembali setelah sebelumnya menjauh.
8. Berubah sikap setelah percakapan emosional.
Perubahan perilakunya terasa lebih jelas jika dibandingkan dengan sikap sebelum curhat. Ketika sebelumnya kalian bisa mengobrol dengan akrab, setelah percakapan yang cukup emosional, dia justru terlihat canggung, menjaga jarak, atau mengurangi interaksi. Perubahan yang muncul tepat setelah momen keterbukaan ini bisa menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Penting diingat, tanda-tanda tersebut tidak otomatis membuktikan seseorang mengalami vulnerability hangover. Perubahan komunikasi dan sikap menjauh juga bisa dipengaruhi oleh kesibukan, kondisi pribadi, atau dinamika hubungan lainnya.
Kalau kamu ingin membandingkan tanda-tanda ini dengan perilaku menghilang dalam hubungan romantis, kamu juga bisa membaca ulasan tentang ciri-ciri pasangan yang suka ghosting.
Penyebab Seseorang Menghilang Usai Membuka Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4686810/original/057930900_1702575320-Ilustrasi_main_HP_sambil_tiduran__kangen__LDR__membaca_pesan.jpg)
Sesudah mengenali ciri-cirinya, kamu juga perlu memahami alasan seseorang tiba-tiba menjaga jarak setelah curhat panjang. Dengan mengetahui faktor pemicunya, kamu bisa merespons situasi tersebut dengan lebih tenang tanpa buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Merujuk ReachLink, amigdala yang berperan sebagai sistem alarm di otak dapat merespons risiko sosial seperti halnya ancaman. Ketika seseorang membagikan sisi dirinya yang rentan, situasi tersebut bisa ditafsirkan sebagai ancaman terhadap rasa aman dan posisi sosialnya. Akibatnya, muncul dorongan untuk menarik diri.
Berikut beberapa alasan yang bisa menjelaskan perilaku tersebut.
1. Takut dihakimi.
Perasaan tidak nyaman setelah curhat bisa muncul karena takut dinilai negatif oleh orang lain atau mengalami kecemasan sosial. Namun, reaksi ini juga bisa menjadi respons alami ketika seseorang keluar dari zona nyaman dan menunjukkan sisi dirinya yang jarang diperlihatkan.
2. Rasa malu muncul setelah merasa lega.
Ketika sedang curhat, seseorang mungkin hanya merasakan kelegaan karena akhirnya bisa mengeluarkan beban yang selama ini dipendam. Namun, setelah emosi mereda, rasa malu dan penyesalan justru muncul. Pada saat itu, bagian otak yang berperan dalam pemikiran rasional, yaitu korteks prefrontal, kembali lebih aktif sehingga dia mulai memikirkan ulang hal-hal yang sudah diceritakan.
3. Memiliki gaya keterikatan menghindar (avoidant attachment).
Sebagian orang memiliki kecenderungan menjaga jarak ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat secara emosional. Dr. Mathys, dikutip dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa pengalaman tertentu dapat mendorong seseorang dengan gaya keterikatan ini untuk menarik diri.
Kondisi tersebut bisa muncul ketika dia merasa tertekan untuk memberi atau menerima dukungan, merasa didorong untuk membangun keintiman emosional, atau kewalahan membayangkan harus membagikan perasaan pribadinya secara mendalam.
4. Menarik diri menjadi strategi untuk meredakan beban emosional.
Berdasarkan ulasan Positive Psychology, penarikan diri tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kurang peduli terhadap orang lain. Pada sebagian orang, sikap tersebut justru menjadi strategi deaktivasi untuk mengurangi perasaan kewalahan dan mempertahankan kendali atas dirinya.
5. Diam terasa lebih melegakan daripada membalas pesan.
Setelah membuka diri, membalas pesan dari orang yang mengetahui cerita pribadinya bisa terasa tidak nyaman. Ada kemungkinan dia khawatir percakapan akan kembali membahas hal sensitif atau memunculkan kecemasan dan rasa malu.
Psikolog Heriot-Maitland, dikutip dari Newsweek, menjelaskan, "Membalas pesan terasa berpotensi memicu kecemasan, konflik, atau rasa malu, sehingga diam memberikan kelegaan instan."
6. Hubungan belum terasa cukup dekat.
Kedekatan emosional juga memengaruhi kenyamanan seseorang saat bercerita. Jika kamu dan dia belum lama saling mengenal atau hubungan kalian belum cukup kuat untuk membangun kepercayaan, berbagi cerita yang terlalu pribadi bisa memunculkan rasa rentan setelahnya.
7. Respons lawan bicara terasa kurang aman.
Cara seseorang menanggapi curhatan juga dapat memengaruhi perasaan setelahnya. Jika lawan bicara memberikan respons yang membuatnya merasa dihakimi, tidak dipahami, atau tidak nyaman, pengalaman tersebut bisa memicu vulnerability hangover. Karena itu, sikap dan respons orang yang mendengarkan turut berperan dalam membangun rasa aman ketika seseorang membuka diri.
8. Kesulitan menetapkan batasan pribadi.
Pengalaman hidup tertentu, termasuk pengalaman traumatis pada masa kecil, dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menetapkan batasan. Akibatnya, dia mungkin menceritakan terlalu banyak hal pribadi sebelum benar-benar merasa siap. Setelah menyadari seberapa jauh dirinya sudah terbuka, penyesalan dan keinginan untuk menarik diri pun bisa muncul.
Advertisement
Bedanya Menghilang karena Malu dan Ghosting
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4300399/original/029813900_1674523456-medium-shot-teen-holding-smartphone_1_.jpg)
Banyak orang langsung menyebut perilaku menghilang setelah curhat sebagai ghosting. Padahal, keduanya tidak selalu sama. Pada ghosting, seseorang memutus komunikasi secara tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan dan umumnya tidak kembali menjalin komunikasi. Sementara itu, orang yang mengalami vulnerability hangover cenderung hanya mengambil jarak sementara dan mungkin kembali berkomunikasi setelah perasaannya lebih tenang.
Perlu dipahami juga bahwa tidak semua orang yang menghilang memiliki niat buruk. Bisa jadi, dia sedang menghadapi masalah pribadi atau memang membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri. Karena itu, hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah pola perilakunya dan bagaimana dia merespons ketika kamu menyampaikan keberatan.
Meski berbeda, kedua perilaku ini bisa memiliki akar yang serupa. Sebagaimana dijelaskan Simply Psychology, perilaku ghosting sering kali merupakan bentuk penghindaran yang mencerminkan masalah komunikasi, ketidakmatangan emosional, kurangnya empati, ketakutan terhadap komitmen, atau keengganan menghadapi konflik.
Artinya, seseorang yang terbiasa menghindari situasi tidak nyaman mungkin menggunakan pola serupa, baik setelah terlibat dalam percakapan emosional maupun ketika ingin mengakhiri hubungan. Perbedaannya terletak pada tujuan, konteks, dan durasi penarikan diri tersebut.
Pada orang dengan gaya keterikatan menghindar (avoidant attachment), kedekatan emosional justru bisa terasa mengancam. Claudia Six, Ph.D., dikutip dari Psychology Today, menyatakan, "Kedekatan lebih banyak mengguncang sistem saraf ketimbang menenangkannya."
Bagi kamu yang berada di pihak yang ditinggalkan, situasi ini tetap bisa terasa menyakitkan. Terlebih ketika kedekatan yang sebelumnya terbangun tiba-tiba berubah menjadi keheningan. Seperti yang sering digambarkan dalam pengalaman hubungan semacam ini, kerinduan tidak selalu dibalas dengan kekejaman, tetapi terkadang hanya dengan ketidakhadiran.
Ada satu pola lain yang juga perlu kamu waspadai, yaitu ghostlighting. Istilah ini merupakan gabungan antara ghosting dan gaslighting. Perilaku ini terjadi ketika seseorang menghilang, kemudian kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan, ketika kamu mempertanyakan sikapnya, dia justru membuatmu merasa berlebihan atau mempertanyakan kewajaran perasaan sendiri.
Jika orang yang menjauh setelah curhat bersedia mengakui perubahan sikapnya dan berusaha memperbaiki komunikasi, kemungkinan dia memang sedang merasa canggung atau belum nyaman setelah membuka diri. Namun, jika dia terus menyalahkanmu dan membuat kebutuhanmu akan komunikasi terasa tidak masuk akal, kamu perlu lebih waspada. Memahami kerentanan emosional seseorang bukan berarti harus membenarkan perilaku yang terus-menerus menyakiti dirimu.
Cara Menyikapi Teman yang Menghilang Setelah Curhat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4500044/original/004985200_1689162026-pexels-maksim-goncharenok-5609454_1_.jpg)
Menghadapi teman yang tiba-tiba menjauh setelah curhat memang bisa membingungkan. Kamu mungkin ingin segera menghubunginya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Namun, penting untuk memahami kapan harus mendekat dan kapan sebaiknya memberi ruang.
Mengacu pada penjelasan Heartfelt Counseling, penarikan diri seseorang dengan kecenderungan menghindar (avoidant) dapat memicu rasa takut ditinggalkan pada pihak yang memiliki kecenderungan cemas (anxious). Akibatnya, pihak yang cemas semakin berusaha mendekat, sedangkan pihak yang menghindar justru merasa kewalahan dan semakin menjauh.
Pola ini bisa menjadi lingkaran yang sulit diputus. Karena itu, mengejar seseorang secara berlebihan justru berisiko memperburuk keadaan. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba.
1. Jangan langsung menyimpulkan.
Ingat bahwa keinginan menjauh setelah curhat bisa berkaitan dengan rasa malu atau perasaan terlalu terbuka, bukan karena dia menilai dirimu secara negatif. Bahkan, penarikan diri tersebut mungkin menunjukkan bahwa percakapan itu cukup berarti baginya karena dia merasa lebih terlihat dan rentan daripada biasanya.
2. Beri ruang dan hindari mengirim pesan bertubi-tubi.
Tahan keinginan untuk terus menghubunginya demi mendapatkan jawaban. Berikan waktu agar dia bisa menenangkan diri. Satu pesan yang tulus sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kamu tetap terbuka jika dia ingin kembali berkomunikasi.
3. Kirim pesan singkat yang menenangkan.
Kamu bisa menyampaikan pesan sederhana seperti, "Makasih ya sudah percaya cerita ke aku. Aku tetap di sini kalau kamu butuh." Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa kamu menghargai keterbukaannya tanpa membuat dia merasa harus segera membalas atau menjelaskan diri.
4. Jaga rahasia yang sudah dipercayakan kepadamu.
Hindari menceritakan kembali masalah pribadinya kepada orang lain, sekalipun niatmu hanya ingin meminta saran. Menghormati privasinya dapat membantu menjaga kepercayaan yang sudah terbangun di antara kalian.
5. Ajak mengobrol ringan ketika dia mulai muncul lagi.
Saat dia kembali menghubungimu, tidak perlu langsung membahas percakapan emosional sebelumnya. Mulailah dengan topik santai dan biarkan dia menentukan kapan merasa siap untuk membicarakan hal yang lebih pribadi.
6. Bicarakan jika pola tersebut terus berulang.
Jika dia berulang kali menghilang setelah curhat, ada baiknya kamu menyampaikan perasaanmu dengan jujur. Sebab, kedekatan emosional yang selalu diikuti keheningan bisa perlahan mengikis kepercayaan jika tidak pernah dibicarakan. Kamu bisa menjelaskan bahwa kamu memahami kebutuhannya akan ruang, tetapi juga berharap ada komunikasi yang lebih jelas.
7. Tetapkan batasan jika diperlukan.
Memahami kondisi emosional orang lain bukan berarti kamu harus terus-menerus mengalah. Jika selama ini hanya kamu yang berusaha menjaga komunikasi, kamu berhak mengurangi intensitas interaksi. Kebutuhan emosional dan kesehatan mentalmu sendiri juga perlu diperhatikan.
Tips jika kamu sendiri sering menghilang setelah curhat
Jika ternyata kamu juga memiliki kebiasaan menjauh setelah menceritakan hal pribadi, cobalah memahami bahwa perasaan dan ingatanmu tentang momen keterbukaan tersebut mungkin terasa jauh lebih intens daripada yang dirasakan orang lain.
Kamu bisa mulai melatih diri melalui perubahan kecil. Misalnya, mengirim pesan untuk menjadwalkan ulang janji daripada membatalkannya dengan alasan mendadak. Begitu pula ketika menerima telepon atau pesan, cobalah memberikan respons pada hari yang sama daripada membiarkannya tanpa kabar selama berhari-hari.
Langkah-langkah sederhana ini dapat membantumu membiasakan diri menghadapi ketidaknyamanan setelah membuka diri, tanpa harus selalu mengatasinya dengan menghilang.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Menghilang Setelah Curhat
Apakah orang yang menghilang setelah curhat berarti tidak menyukai saya?
Belum tentu. Dalam banyak kasus, dia menjauh karena merasa malu atau terlalu terbuka, bukan karena tidak suka padamu. Perhatikan apakah dia kembali dan bersikap baik setelah beberapa waktu.
Berapa lama biasanya seseorang menghilang setelah curhat?
Tidak ada patokan pasti karena setiap orang berbeda. Ada yang hanya canggung sehari-dua hari, ada juga yang butuh waktu lebih lama, tergantung seberapa berat cerita yang dia bagikan dan seberapa dekat hubungan kalian.
Kapan saya perlu khawatir dengan perilaku ini?
Kamu perlu lebih waspada kalau polanya terus berulang, dia tidak pernah mau membicarakannya, atau malah membuatmu merasa bersalah saat bertanya. Kalau sudah begitu, menetapkan batasan dan menjaga jarak bisa jadi pilihan yang sehat.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360361/original/012138900_1790634421-IMG-20260928-WA0086_1.jpg__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382447/original/017524100_1792996400-Anies_Cek_Fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385238/original/034787500_1793247276-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4336079/original/028744300_1677212712-pexels-cottonbro-studio-4058779_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391954/original/072137000_1793958689-Vertical_500x656_-_Dayatana.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345690/original/067748100_1789050705-WhatsApp_Image_2026-09-10_at_21.02.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344472/original/056989200_1788947104-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_4.34.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329986/original/052581700_1787307659-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.03.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308204/original/009529000_1785132477-WhatsApp_Image_2026-07-27_at_12.46.15_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304577/original/005200700_1784721544-WhatsApp_Image_2026-07-22_at_18.12.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291253/original/086637400_1783510555-WhatsApp_Image_2026-07-08_at_17.07.14.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290264/original/065273200_1783441564-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.36.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290208/original/083376600_1783432448-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.29.47.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290170/original/059488200_1783429797-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_19.50.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9271167/original/049315200_1783170039-WhatsApp_Image_2026-07-04_at_17.30.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8974535/original/013451500_1782983178-1106e511-c5ef-46a5-8b74-de1fd75e92f8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262336/original/070728700_1781780140-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_17.41.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292496/original/090511000_1783600392-NTB_Karbon.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1588019/original/097014900_1538998899-PG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392062/original/015622700_1793969928-WhatsApp_Image_2026-11-06_at_12.54.23_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392237/original/023136300_1794028485-Gemini_Generated_Image_yufdx5yufdx5yufd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5097763/original/007875500_1737103639-Foto_tersenyum_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309696/original/093423200_1785238826-pexels-karola-g-8528741.jpg)